Friday, February 25, 2011

tempat tidur






Dari mana datangnya rasa percaya ?
Dari tempat berukuran 120 X 200 sentimeter terdiri dari bebarapa lapisan yang tengahnya berupa pegas besi, semuanya untuk kenyamanan berbaring di atasnya, dilapisi kain penutup berwarna seragam dengan penutup bantal – guling, krem, aneka merah, tapi yang paling sering adalah yang berwarna putih dan kesemuanya polos tanapa motif, dikelilingi lukisan krayon yang sangat feminin tapi ada juga sketsa-sketsa hitam putih yang samasekali tidak feminin, dan semua berbingkai kayu dan tergantung di dinding putih yang beberapa bagiannya sudah somplak plesterannya. 






Di situlah kepercayaan tumbuh dengan sangat perlahan.

Sangat perlahan.






Bagi ‘si percaya 1’, perlahannya seperti bayi manusia yang membutuhkan waktu yang sangat panjang sampai dia bisa melakukan langkah pertamanya.




Bagi ‘si percaya 2’, seperti seseorang yang harus menahan nafasnya selama hitungan tahun, menanti saat terucap kata “ibu” dari bibir si bayi.






Kepercayaan harus melalui proses kompromi berbagi wilayah pribadi dengan hidup –setiap geliat tubuh, setiap rentangan tangan, setiap pejaman mata, setiap irama mimpi,--dengan sangat tidak mudah.





Ada lagi proses lainnya, bertahan untuk tidak meninggalkan tempat terssebut hanya karena terkadang begitu sulitnya kata-kata ‘kompromi’ itu untuk dimengerti apalagi dilakukan.



(karena tidak semua mimpi itu indah,

lagipula siapa yang dapat menyutradarai mimpi selain emosi?)





Lalu, kenapa harus percaya ?


Karena harus berkompromi—bukan dengan ‘siapa’, tapi dengan ‘apa’—yang dikehendaki oleh : bukan ‘kepala’, tapi ‘hati’. Juga oleh dunia yang tidak bisa selalu ditolak.

Lalu, bagaimana cara mudah untuk percaya ?











Tidurlah yang nyenyak, sayang…



 lenteng agung, desember 2004

Thursday, February 10, 2011

kepada januari aku kembali



kepada januari aku kembali
bersamanya aku mengunjungi negeri asing yang memberiku
setitik air dan segumpal tanah berdarah
entah darah siapa, aku tak dapat mengenalinya



bersama januari aku menyusuri lorong kota
menyambut semua tangan yang terjulur
untuk menjabat dan menghantam kepala



tak satupun kusambut dan
tak satupun kuhindari
kubiarkan mereka tetap asing tak berwajah,
tak bernama



sepasang mata januari saat itu diliput kabut
sorotnya samar
aku suka itu
karena aku tidak ingin menyelami apapun di dalamnya



tapi kudengar dia menyeru,"kenapa kau datang? kenapa kau berdiri satu langkah di depanku? kenapa kau menarikan tarian itu dengan rambut kusutmu menutupi wajah?"



aku tidak pernah menjawabnya
aku tidak mau mendengarnya
tapi suaranya begitu terdengar jelas
januari memang biru
dan aku pun melanjutkan tarianku



 
hari ini aku kembali mengunjungi januari
dia tetap membiru
namun kabut tidak lagi meliputi sepasang matanya
dia menantang dengan tegak
berseru dengan lantang,"kenapa kau kembali? mau apa kau di sini? sudah lama kau pergi dan aku tidak mengharap kau kembali? biarkan kami melakukan apa yang dilakukan dengan cara terbalik di luar sana! biarkan kami menemukan jawaban dari pertanyaan kami sendiri, bahwa kami benar!!"



aku tetap diam dalam tarianku
di tengah padang dilingkung bukit
lalu kupejamkan mata
berbisik sendiri...mengapa harus kepada januari aku kembali?



kurasakan telapak kakiku merelakan tanah
kurasakan angin mengangkat tubuhku
dan angkasa menyambutku, menjanjikan sebingkai hilang padaku
kutinggalkan januari di bawah sana...
di dalam belaian bunda kandungnya, di ranah perempuan dan laki-laki
yang bertarung tiada henti....




dedicated to hoerijah adam



lenteng agung, 23 januari 2011

Saturday, November 6, 2010

i don't wanna grow up

























I Don't Want to Grow Up is the second album by the Manhattan Beach, California-based punk rock band the Descendents, released in 1985 through New Alliance Records. It marked the end of a two-year hiatus for the band, during which singer Milo Aukerman had attended college and drummer Bill Stevenson had joined Black Flag.



i don't want to grow up i don't want to grow up if
growing up means being like you then i don't want
to be like you recycled trash it's deja vu i don't

i don't want to grow up i don't want to grow up you're
grown up, told what to do your suit can't hide the
truth you're a fool and i refuse to be like you i
don't want to grow up

*          *          *






Bone Machine is a critically acclaimed and award-winning album by Tom Waits, released in 1992 on Island Records. It won a Grammy Award for Best Alternative Music Album, and features guest appearances by Los Lobos' David Hidalgo, Primus' Les Claypool, and The Rolling Stones' Keith Richards. I Don't wanna grow Up written by Tom Waits and his wife, Kathleen Brennan, video by Jim Jarmusch


When I'm lyin' in my bed at night I don't wanna grow up
Nothin' ever seems to turn out right I don't wanna grow up
How do you move in a world of fog That's always changing things
Makes me wish that I could be a dog
When I see the price that you pay I don't wanna grow up
I don't ever wanna be that way I don't wanna grow up
Seems like folks turn into things That they'd never want
The only thing to live for Is today...
I'm gonna put a hole in my TV set I don't wanna grow up
Open up the medicine chest And I don't wanna grow up
I don't wanna have to shout it out I don't want my hair to fall out
I don't wanna be filled with doubt I don't wanna be a good boy scout
I don't wanna have to learn to count I don't wanna have the biggest amount
I don't wanna grow up
Well when I see my parents fight I don't wanna grow up
They all go out and drinking all night And I don't wanna grow up
I'd rather stay here in my room Nothin' out there but sad and gloom
I don't wanna live in a big old Tomb On Grand Street
When I see the 5 o'clock news I don't wanna grow up
Comb their hair and shine their shoes I don't wanna grow up
Stay around in my old hometown I don't wanna put no money down
I don't wanna get me a big old loan Work them fingers to the bone
I don't wanna float a broom Fall in love and get married then boom
How the hell did I get here so soon I don't wanna grow up 


*          *         *



 ¡Adios Amigos! is the fourteenth and last studio album by the American punk band the Ramones. It was released in 1995.I Don't wanna grow up written by Tom Waits and Kathleen Brennan




sources : wikipedia & youtube

Friday, November 5, 2010

kutukan rumah terkutuk



rumah terkutuk itu kembali menebar teror,
semenjak tiangnya melapuk dan habis dimakan rayap
satu persatu ornamennya beruntuhan,
pecah di lantai semen yang dingin membusuk oleh lumut


aku harus kembali ke sana
dengan langkah enggan,
merapikan dan menyuruhnya sekali lagi
untuk berhenti mengutuki kami semua
dengan susah payah


aku yang tersisa, bertahan dari terpaan kutukan sial dangkalan
megutuk balik ke arah kemegahan yang menyeringai
namun kalut oleh waktu


rumah terkutuk itu terus tertawa
meertawai tenagaku yang tersengal menghampiri,
lalu menghindar,
dan kembali lagi


selembar kain basah kulempar ke arah lidah api,
tapi dia terbakar juga
seember air kusiramkan ke sana,
tapi tak ada lagi
percuma


aku menjauh lagi,
tertawanya makin ngakak
mengutuki aku yang tersisa,
terus mengutuk dan tertawa


aku menjauh..
langkahku semakin pelan


lalu berhenti
kubalikkan badan
berdiri tegak di tentang pintunya
kutarik napas, dalam sekali


tawanya semakin keras

lalu aku berlari sekuat tenaga
menembus lidah api


masuk ke jantungya
meneyelam dalam bara

 dan kuteriakkan kutukanku


TERKUTUKLAH KAU RUMAH TERKUTUUUUK.....



api api api....tak ada lainnya lagi





















 *     *     *










lenteng agung, 13 September 2010