Saturday, March 31, 2012

Untuk AA Navis



Tak akan ada lagi ritual itu
setelah yang ke tujuh




Aku mengenangmu
lewat lore,
sembang,
congklak,
tak satupun dari permainan itu kau tahu




Pagi panekuk,
siang bubur delima,
dan sore limping



Kue limping yang kau hutangkan padaku,
karena uang seremis dari ibu telah kubelikan gula tare





Maria, sungguh aku menyesal




Karenanya, hantu-hantu memukulimu








Sejak saat itu,
orang-orang kampung tak lagi mau membeli kue dari Mak Pasah




Seperti juga aku,
tak akan lagi kulakukan ritual itu,
sejak kulihat tetes darah di mangkuk bubur delima
pada pembotakan terakhirku ...



Sketsa terinspirasi dari cerpen 
Pada Pembotakan Terakhir 
karya AA Navis

2 comments:

  1. saya sangat terkejut sekali ada seseorang membuat puisi dengan iringan lukisan tangan yang memiliki makna tersembunyi. bagi saya ini sangat menarik, indah, dan horor :)
    salam sastra

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih atas apresiasinya, teman anonymous.

      Delete